بِسْمِ اللّٰـهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dari Amir Mukminin Abi Hafsh Umar bin Al-Khaththab
radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
”Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya.”
(HR. Dua Imam Muhadditsin (ahli hadits) Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi didalam dua kitab shahih mereka yang keduanya adalah kitab yang paling shahih (benar) yang ditulis (manusia).
”Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya.”
(HR. Dua Imam Muhadditsin (ahli hadits) Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi didalam dua kitab shahih mereka yang keduanya adalah kitab yang paling shahih (benar) yang ditulis (manusia).
Tulisan pertama di blog ini tentang niat, karena menurut
saya niat adalah dasar dari segala usaha, dan dasar dari segala pencapaian.
Juga karena saya sering mendengar pembicaraan yang kelihatannya sederhana,
namun menurut saya dampaknya tidak sesederhana itu.
Dalam memulai apa pun, amalan apa pun, niat kita harus
benar. Sering saya mendengar orang berbicara di depan publik, mengingatkan para
pendengarnya seperti ini :
‘...jangan melakukan kebaikkan hanya karena ingin dilihat
oleh seseorang, pamer di hadapan seseorang...’
tapi beliau juga mengajak seperti ini :
‘...mari kita sholat biar masuk surga, mari kita berbuat
baik kepada sesama supaya masuk surga...’
Lhah ???
Dua kalimat yang isinya jauh berbeda, bahkan berlawanan.
Yang pertama melarang melakukan sesuatu dengan niat pamer, dan yang kedua
melakukan sesuatu dengan penuh pengharapan.
Bukankah setiap kita shalat, kita selalu mengucapkan ‘Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah
karena Allah, Tuhan semesta alam.’ ?
Iya, hanya karena Allah, bukan karena supaya masuk surga !!!
Inilah kesalahan besar yang terlihat sederhana / sepele
karena sering diucapkan namun jarang dipahami. Melakukan sesuatu karena ingin
dilihat dengan melakukan sesuatu biar masuk surga itu sama, sama-sama menaruh
pengharapan di dalamnya. Padahal, setiap hari kita sudah mengucapkan sebuah ‘komitmen’
bahwa apa pun yang kita lakukan hanyalah karena Allah, bukan karena surga atau
terhindar dari dosa. Urusan surga atau neraka, itu Allah yang menentukan,
karena hanya Allah yang Maha Kuasa. Tugas kita hanya menjaga kemurnian sebuah
komitmen tadi, dengan cara memurnikan niat. Karena niat, adalah dasar dari
segalanya.
Mari, kita jaga komitmen kita, kita niatkan apa pun yang
kita lakukan hanya karena Allah, Tuhan semesta alam...
0 komentar:
Posting Komentar