Senin, 07 April 2014

Perjuangkan Kebaikkan Dengan Strategi



Bismillah...

Tulisan ini saya tulis tanggal 7 April 2014, sebagai pertimbangan Teman-teman untuk pemilu 9 April 2014 besok ^^ Semoga saja tidak telat... Heuheu...

Oke, langsung saja, ini saya mau sampaikan pendapat saya tentang pentingnya menegakkan sistem Khilafah di negeri yang ‘masih’ Demokrasi ini. Tapii... Saya tidak akan membahas sistemnya, karena Anda semua saya yakin lebih tahu dari saya, saya hanya ingin membahas soal strategi untuk mengubah sistem tersebut, yang menurut saya bukan dengan cara GOLPUT...

Why ? Kenapa bukan Golput ????

Sabar Brooo, nih saya jelaskan, simak yaaa... :D

Akhir-akhir ini, banyak sekali aktifis muslim yang mengajak untuk golput, ‘niatnya’ untuk memperjuangkan sistem Khilafah. Yang mereka ajak adalah mereka yang juga sama2 muslimnya.
Sedangkan, nanti yang ikut pemilu secara garis besar adalah muslim dan skuler.

Sedangkan pemilih partai skuler katakanlah ada 50% dari jumlah penduduk, dan katakanlah juga 50% sisanya memilih partai Islam. Nah, pemilih yang memilih partai sekuler ini misalnya ada 3 golongan, dengan persentase 20% Partai Skuler A (PSA), 20% Partai Skuler B (PSB), dan 10% sisanya adalah golongan partai skuler lainnya.

Sedangkan para pemilih partai Islam, sebagian diajak untuk golput (karena selama ini yang diajak golput adalah justru hanya calon pemilih partai Islam). Misalnya yang golput ada 10%, maka pemilih partai Islam sisanya, hanya ada 40%, itupun harus dibagi lagi beberapa partai, misalnya jadi 15% Partai Islam A (PIA), 15% Partai Islam B (PIB), dan 10% partai Islam lainnya.

Maka, dari simulasi itu saja, sudah terlihat bahwa dengan semakin banyak jumlah golput, maka semakin besar peluang partai sekuler menang, dan itu berarti semakin besar pula peluang Indonesia dipimpin oleh pemimpin sekuler (naudzubillah...)

Dan jika yang memimpin adalah pemimpin sekuler, maka harapan untuk merubah sistem pemerintahan negeri ini nyaris NOL !

Tidak ada negosiasi untuk memperjuangkan sistem khilafah, yang ada hanya demo. Ya, DEMO !
Dan ketika para aktifis muslim berdemo, maka pemimpin sekuler itu akan menghadapinya dengan kekuatan militer. Setelah itu terjadi, gambaran yang sudah jelas adalah seperti negara2 di timur tengah, para muslim dibantai oleh militer pemerintah...

Saat negara berada dalam ‘systematic chaos’ itu, maka Amerika datang dengan dalih memperjuangkan perdamaian, yang ujung2nya membela militer pemerintah untuk membunuh para muslim negeri ini.

Kita harus ingat, bahwa negara KITA ini (ingat, Kita, bukan saya, Anda, atau Mereka) adalah negara PALING MAJEMUK DI DUNIA. Negara yang di dalamnya ada beragam Agama, Suku, Budaya, dlsb. Dengan sepenuh keragaman tersebut, maka ‘secara strategi’ Indonesia adalah negara yang PALING BERPOTENSI terjadinya konflik internal (perang saudara). PALING MUDAH DIADU DOMBA !!!

Dengan sedikit isu, ditambah campur tangan barat, saya pikir muslim di negara ini akan senasib seperti muslim di timur tengah yang sedang di tindas saat ini... Naudzubillah...

Demo, adalah awal dari perang dengan militer pemerintahan sekuler dimulai, awal dari segala penindasan dimulai.

Dan demo yang dimaksud di atas, bermula dari tiadanya kemungkinan negosiasi dengan pemerintahan sekuler untuk merubah sistem pemerintahan negara.

Dan Pemerintahan skuler terpilih, karena kalahnya suara pemimpin Islam, karena sebagian pendukungnya menjadi golput.

Berbeda cerita, jika yang terpilih adalah pemimpin Muslim :D
Setidaknya akan ada kemungkinan untuk bernegosiasi merubah sistem pemerintahan, TANPA DEMO, TANPA KEKERASAN...

Jadi, JANGAN GOLPUT.
Satukan suara untuk memilih partai Islam, ya kalau bisa yang ga’ ada anggotanya yang korupsi...
Emang ada yang g korupsi ??? In sya Allah, ada... Hanya saja ‘dituduh’ korupsi, karena sampai sekarang belum ada bukti bahwa beliau korupsi...

Ayo kita perjuangkan sistem khilafah, dengan strategi yang baik, bukan hanya dengan otot saja, ego saja, semangat saja, tapi juga dengan akal, dengan strategi...
Tidak bijak rasanya pertempuran tanpa strategi :D


*Sebagai tambahan, Indonesia adalah negara yang ditakdirkan oleh Allah, menjadi negara bersumber daya alam TERKAYA DI DUNIA. Jadi, tidak heran rasanya kalau banyak negara menginginkan terjadinya kerusuhan di negeri ini, atas kepentingan penguasaan sumber daya alamnya yang begitu ‘seksi’ untuk dimiliki....

Senin, 27 Januari 2014

Serahkan Semua Kepada ALLAH

بِسْمِ    اللّٰـهِ    الرَّحْمٰنِ    الرَّحِيمِ

Artikel kali ini, mengenai pengalaman saya dulu, pengalaman yang mungkin tidak dialami oleh banyak orang, tapi saya akan menceritakan secara detail, supaya Anda mampu merasakan apa yang saya rasakan waktu itu... heuheu
(pasang muka agak seriusan dikit) :p

Pengalaman ini mungkin akan memberikan sedikit gambaran, solusi bagi Anda yang mungkin sedang mengalami sebuah, atau dua buah, tiga buah, atau bahkan empat buah lebih masalah :v

Saya masih ingat betul, waktu itu kondisi ekonomi keluarga sedang down, bahkan kuliah saya pun terhenti. Tidak cukup sampai di situ, usaha yang saya bangun bersama teman pun merugi, sementara penghasilan saya dari usaha lain pun juga sedang minus, karena ada beberapa hutang.

Bisa dibayangkan, beberapa ujian besar, datang bersamaan. Saya merasa, sedang berada pada titik dimana akhir dari kehidupan itu berada, dimana sebuah harapan sudah tertutup, dimana sebuah kehancuran ‘sedang’ terjadi...

Beberapa hal itu, bukan hanya membuat saya tidak bisa tidur, bahkan menatap pun dengan pandangan kosong. Saya jadi berpikir, jangan-jangan kondisi seperti inilah yang membuat banyak orang menjadi gila, stres, bahkan ada yang sampai bunuh diri, naudzubillahimindzalik...
Karena situasi dan kondisinya memang sangat berat bagi manusia...

Sampai pada siang hari, tidak tahu kenapa, tiba-tiba saya ingin shalat dzuhur di masjid Agung kota Kediri, salah satu masjid favorit saya, lokasinya memang jauh dari rumah saya. Masjid yang berada di pusat keramaian kota, namun mampu ‘menghadirkan’ ketenangan yang luar biasa bagi saya setiap kali kesana.

Setelah shalat dzuhur, dan masih dalam kondisi yang ‘memprihatinkan’, karena berada pada satu titik kehidupan yang sangat berat, tiba-tiba saya teringat dengan satu kalimat yang sering diucapkan oleh banyak orang, ‘inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun...’, Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali...

Sebuah kalimat yang memiliki nilai ketauhidan yang tinggi. Dari situ, saya sadar bahwa semua masalah yang sedang ‘menghampiri’ saya ini berasal dari Allah, semuanya !

Lalu saya menuju serambi atas masjid, saya duduk bersila menghadap kiblat, saya pejamkan mata. Saya mencoba menginderakan wujud Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Saya bayangkan sedang berhadapan langsung dengan sang Pemilik alam semesta ini. Seperti seorang anak kecil yang sedang ingin mengadu kepada orang tuanya, dalam hati saya berbicara (dengan keyakinan yang seyakin-yakinnya bahwa saya sedang berada di hadapan Allah, Tuhan seluruh alam) :
“Yaa Allah, masalah ini terlalu berat bagiku, saya tidak sanggup lagi menghadapinya, saya sadar semua ini berasal dari Engkau, maka aku kembalikan lagi kepada Engkau, terserah bagaimana Engkau mengaturnya...”
Kurang lebih seperti itu perkataan yang ada dalam hati saya. Setelah itu saya menghirup nafas panjang, sambil memikirkan semua masalah yang sedang saya hadapi, saya coba kumpulkan semuanya, saya bayangkan masalah itu seperti sebuah barang, saya bayangkan semua barang itu saya kumpulkan di tangan saya, setelah semua barang itu terkumpul, saya hembuskan nafas panjang, bersamaan dengan hembusan nafas itu, saya bayangkan sedang menyerahkan semua masalah itu kepada Pemiliknya, Allah yang Maha Kuasa.

Setelah itu saya membuka mata, tidak tahu kenapa, pikiran saya jadi tenang, hati terasa adem, seperti sedang tidak ada masalah apa pun dalam kehidupan saya. Beban yang tadinya sangat berat dalam pikiran saya, tiba-tiba hilang begitu saja. Bahkan, saya menjadi sangat mudah melihat solusi dari setiap ‘ujian’ itu. Yang akhirnya membawa saya untuk mengatasi semua ujian itu dengan sangat tenang, baik, dan lancar. :D

Subhanallah, dari situ saya jadi berpikir, ketika kita berada pada titik dimana kita tidak bisa mengelak bahwa kenyataannya memang benar semua berasal dari Allah, dan kepada-Nya lah semua akan kembali, maka dari situlah kita akan mampu tenang dalam menghadapi setiap ujian dalam hidup kita, yang akhirnya membuat kita mudah untuk menemukan jawaban-jawaban untuk setiap ujian tersebut.

Ketika kita merasakan beban yang terlalu berat bagi kita, bukan narkoba tempat pelarian kita, tapi kembalilah kepada Allah, serahkan semuanya kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu mengatasi segalanya, sedangkan kita sama sekali tidak memiliki kemampuan apa pun...

Minggu, 26 Januari 2014

Memurnikan Niat, Menjaga Komitmen

بِسْمِ    اللّٰـهِ    الرَّحْمٰنِ    الرَّحِيمِ

Dari Amir Mukminin Abi Hafsh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya.”

(HR. Dua Imam Muhadditsin (ahli hadits) Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi didalam dua kitab shahih mereka yang keduanya adalah kitab yang paling shahih (benar) yang ditulis (manusia).

Tulisan pertama di blog ini tentang niat, karena menurut saya niat adalah dasar dari segala usaha, dan dasar dari segala pencapaian. Juga karena saya sering mendengar pembicaraan yang kelihatannya sederhana, namun menurut saya dampaknya tidak sesederhana itu.
Dalam memulai apa pun, amalan apa pun, niat kita harus benar. Sering saya mendengar orang berbicara di depan publik, mengingatkan para pendengarnya seperti ini :
‘...jangan melakukan kebaikkan hanya karena ingin dilihat oleh seseorang, pamer di hadapan seseorang...’
tapi beliau juga mengajak seperti ini :
‘...mari kita sholat biar masuk surga, mari kita berbuat baik kepada sesama supaya masuk surga...’
Lhah ???
Dua kalimat yang isinya jauh berbeda, bahkan berlawanan. Yang pertama melarang melakukan sesuatu dengan niat pamer, dan yang kedua melakukan sesuatu dengan penuh pengharapan.

Bukankah setiap kita shalat, kita selalu mengucapkan ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan semesta alam.’ ?
Iya, hanya karena Allah, bukan karena supaya masuk surga !!!

Inilah kesalahan besar yang terlihat sederhana / sepele karena sering diucapkan namun jarang dipahami. Melakukan sesuatu karena ingin dilihat dengan melakukan sesuatu biar masuk surga itu sama, sama-sama menaruh pengharapan di dalamnya. Padahal, setiap hari kita sudah mengucapkan sebuah ‘komitmen’ bahwa apa pun yang kita lakukan hanyalah karena Allah, bukan karena surga atau terhindar dari dosa. Urusan surga atau neraka, itu Allah yang menentukan, karena hanya Allah yang Maha Kuasa. Tugas kita hanya menjaga kemurnian sebuah komitmen tadi, dengan cara memurnikan niat. Karena niat, adalah dasar dari segalanya.

Mari, kita jaga komitmen kita, kita niatkan apa pun yang kita lakukan hanya karena Allah, Tuhan semesta alam...